Mengenai Saya

Foto saya
pribadi yang melangkah sesuai panggilan harapan..untuk berubah..disini kuas ditorehkan..dioles carut marut hidup..senang dan susah..pemikiran, harapan dan sampah kekecewaan..

Selasa, 01 November 2011

Surabaya: Labirin Birahi


Berjudul Lautan, bukan karena Surabaya memiliki pantai Kenjeran. Bukan karena di Kota Surabaya terdapat PT. Pelni, pusat perkapalan Indonesia. Bukan pula karena sifat masyarakat Surabaya yang sekiranya dianggap memiliki birahi berlebih. Tetapi karena selorong gang sempit, berjejer rumah satu dengan yang lainnya, berdindingkan kaca bening seakan akuarium, yang menyajikan pemandangan indah wanita-wanita cantik dengan pakaian minimnya, menggoda.
Gang Dolli namanya. Sebuah pusat prostitusi yang besar di seluruh Indonesia. Lokalisasi ini pernah mengalahkan besarnya lokalisasi luar negeri seperti Phat Pong di Bangkok, Thailand, dan Geylang di Singapura. Dalam gang selebar enam meter ini para pekerja seks komersial menjajakan tubuhnya. Mereka memamerkan kecantikan dan kemolekan tubuh di balik kaca-kaca wisma. Cukup berjalan perlahan menyusuri gang tersebut, tengok kiri-kanan, dan tentukan pilihan anda pada wanita yang diinginkan. Mudah bukan? Bahkan lebih mudah lagi. Makelar-makelar yang ada dipinggir jalan akan memberhentikan anda dan meyakinkan bahwa wismanya memiliki stok  yang bagus. Tinggal sebutkan keinginan anda, ciri-ciri, bentuk tubuh, umur, paras wajah, seperti jin Kartubi, makelar akan berusaha mengabulkan permintaan anda.
Biaya untuk menikmati pelayanan di gang Dolli ini terbilang tejangkau, berkisar 80-150 ribu rupiah per jam.   Selain itu, jaminan kebersihan dan keamanan para pekerja seks komersial dijamin oleh mucikari. Setiap kamis minggu pertama dan minggu ketiga, para penjaja tubuh diperiksa kesehatan terkait alat vitalnya. Wajar saja gang dolli menjadi primadona Kota Surabaya. Bahkan tak ayal para pelancong menentukan gang Dolli sebagai tujuan wisatanya di kota pahlawan ini.
Gang Dolli adalah salah satu sejarah tua aktivitas prostitusi di Surabaya. Lokalisasi yang dulunya kuburan China ini sudah berdiri sejak tahun 60-an. Rumah bordil pertama di gang dolli didirikan oleh pelacur berdarah Jawa-Filipina yang memiliki nama yang sama, Dolly Khavit. Begitulah asal mula sebutan gang Dolli. Pada zaman tersebut lokalisasi di Surabaya tidak hanya di gang Dolli saja, terdapat lima lokalisasi berbeda yang cukup besar, yaitu; lokalisasi Jarak, lokalisasi Moroseneng, lokalisasi Bangunsari, lokalisasi Klemir, dan lokalisasi Klakah Rejo. Namun nama gang Dolli lebih membumbung tinggi dari yang lain hingga saat ini. Bisa dibilang gang Dolli adalah lambang prostitusi di Surabaya bahkan di Indonesia.
Keremangan kota
Membicarakan Indonesia dan prostitusi, dapat ditemukan fakta bahwa tiap kota memiliki lokalisasi. Contohnya saja; Yogyakarta yang terkenal dengan Pasar Kembangnya, Surakarta dengan belakang RRI-nya, atau Semarang dengan Sunan Kuningnya. Praktik prostitusi semacam ini, tanpa disadari adalah sebuah elemen pembentuk sebuah kota.
Terlepas dari kontroversinya yang selalu bergaung di antara pelanggan dan orang-orang beriman. Lokalisasi adalah salah satu ikon hiburan, terselubung, yang ada di setiap kota. Perihal lokalisasi ini tidak luput dari pengetahuan masyarakat secara umum. Akan tetapi tidak ada tindakan lebih lanjut dari masyarakat, selaku masyarakat umum dan pelaku, untuk berhenti atau menghentikan proses ini. Jikapun ada, hal ini tidak hanya berdampak pada berhentinya praktik seks komersial untuk sementara waktu. Kemudian beberapa waktu akan muncul kembali praktik penjualan tubuh yang sama, walaupun mungkin terjadi di tempat yang berbeda. Seperti kasus di Surabaya yang terjadi pada lokalisasi Jarak yang merupakan pindahan dari lokalisasi Jangkir.
Di berbagai literatur yang saya temui, pemerintah Surabaya mengatakan bahwa komersialisasi seks ini merupakan hal yang kompleks. Kompleks karena dari sudut pandang masyarakat di gang Dolli, praktik penjajaan tubuh ini meningkatkan ekonomi pada masyarakat sekitar. Parkir, penjualan berbagai makanan dan minuman, penyewaan tempat, dan transaksi seksnya, menghasilkan putaran uang yang sangat besar. Warga yang kecipratan rejeki seperti ini sudah tentu senang. Soalnya pengunjung sudah pasti berdatangan tiap hari. Menjual sesuatu di atas rata-rata pun sudah menjadi kewajaran dan dimaklumi oleh para pengunjung. Keuntungan pun dinikmati oleh para pelanggan. Di mana posisi Surabaya yang dinobatkan sebagai kota metropolitan kedua, memiliki nilai aktivitas kerja yang tinggi.
Sebagai hiburan dan pelepas lelah, Gang Dolli menjadi salah satu alternatif yang baik. Hal ini pun mendukung teori dari menantu Karl Marx, Paul Lafrange (2004) yang membicarakan hak untuk malas dari para pekerja. Menantu Karl Marx ini mengungkapkan bahwa bekerja setiap hari akan melumpuhkan fungsi dari otak untuk berpikir dan berujung kepada penderitaan pekerja. Maka tidak salah jika para pekerja memilih seks sebagai pelepas lelahnya. Selain itu, dengan adanya fasilitas prostitusi terpusat seperti ini setidaknya mencegah  praktik prostitusi meluas di berbagai tempat di Surabaya.
Sudut pandang yang bertentangan akan ditemukan di atas kertas kuisioner. Jika ada sebuah pertanyaan baik tidak keberadaan lokalisasi Dolli? Maka banyak yang akan menjawab bahwa keberadaan lokalisasi Dolli adalah buruk dari berbagai segi. Bahkan sangat jelas ketika dipandang dari sudut agama. Dari segi pendidikan, anak-anak kecil yang tinggal di sekitar lokalisasi, pun anak-anak muda di Surabaya, dapat secara bebas berkeliaran, mengunjungi bahkan menikmati praktik haram ini.
Sungguh klise dan kuno, jika para pelaku komersialitas seks mengaku kesulitan ekonomi sebagai alasan terjun ke dunia penjajaan tubuh. Walaupun hal yang seperti itu benar-benar terjadi, bahkan lebih menyedihkan jika pelacur adalah korban dari trafficking. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan banyak yang berbeda. Para PSK tersebut mengakui menjadi pelacur karena kenikmatan birahi. Sehingga pelacuran adalah hal yang menyenangkan sekaligus menguntungkan. Jikapun tidak begitu, pelacur sendiri menikmati hasil kerjanya sebagai tuna susila.
Kompleksitas ini tidak berujung. Mulai dari kontroversi halal dan haramnya praktik pelacuran, masyarakat umum dan masyarakat di sekitar pelacuran, hingga elemen seks komersil; pekerja seks komersial, mucikari, pelanggan yang sulit melepas keuntungan dari praktik tersebut. Inilah yang menjadikan prostitusi adalah sebuah elemen pembentukan kota yang terselubung. Terselubung  karena banyak yang tidak mengharapkan keberadaannya, walaupun banyak pula yang diam-diam berharap akan keberadaaannya. Begitulah hakikat prostitusi, selalu menyimpan harapan di balik keremangan. (Opini untuk PJTLN)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar