“Agama, jangan jauh dari kemanusiaan”,- Gus Dur
Dua minggu berselang dari tragedi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton Surakarta, kasus bom bunuh diri yang ke tujuh kalinya di Indonesia ini menyebabkan 1 tewas, dan 22 orang jemaat luka-luka. Pelakunya adalah Achmad Yosep Hayat, pria muda, yang diduga juga buron dalam tragedi pengeboman di masjid Ad-dzikro, Markas Polres Kota Cirebon. Hubungan ini menggambarkan keseriusan dari jaringan pelaku pengeboman bunuh diri dalam menjalankan aksinya. Umat Islam kembali menjadi sorotan. Mengingat pelaku kasus bom Bali dan lainnya menggunakan nama-nama bernafaskan islam. Meski begitu di tubuh umat Islam sendiri terjadi pro-kontra, banyak yang mengutuk ada pula yang mengangguk.
Kasus serupa terjadi di Oslo, Norwegia akhir juli lalu. Andres Berhing Brevik melakukan penembakan massal dan pengeboman yang menewaskan 76 orang. Kebenciannya terhadap umat Islam, dan negeri yang toleran kepada Islam memicunya melakukan pembunuhan. Pimpinan Dewan Gereja Sedunia (WCC) di Geneva, Swiss pun mengecam tindakan tersebut dan menyatakan bahwa Brevik telah menistakan ajaran Kristen (sumber: Kompas).
Menguatnya radikalisme dalam beragama yang memicu semakin tumbuh suburnya pembunuhan dengan dalih agama justru menampakkan kedangkalan beragama. Agama hanya dipahami sebatas pada level teks bukan menyentuh hingga taraf konteks. Bukankah beragama itu memanusiakan manusia? Bukan justru membinasakan manusia?
Sungguh ironis jika ritual keagamaan lahir dari akar kebencian. Meski begitu pelaku akan menolak keberadaan kebencian yang menjadi tempatnya berpijak. Posisinya sebagai martir Tuhan adalah bentuk kecintaannya, kesediaan untuk mati. Kecintaan yang sombong dengan menawarkan nyawa sebagai buah cinta. Sombong karena ia memaksa orang lain untuk melakukan pergulatan cinta yang sama, menuju kematian.
Tidak tertera dalam ajaran agama manapun yang mengacuhkan nilai kemanusiaan. Idealnya hidup umat beragama adalah untuk melakukan komunikasi yang baik antara Tuhan dan makhluk Tuhan lainnya. Tuhan sebagai sebuah kepercayaan, transendental, yang hidup dalam ideologi. Dan manusia sebagai obyek praktik dari ajaran yang termaktub dalam kitab maupun terucap dalam riwayat berada dalam realitas.
Dominasi Pluralitas
Indonesia adalah tempat pertemuan berbagai agama di dunia. Bermula dari agama hindu, disusul agama budha, kemudian islam, dan Kristen, baik katolik maupun protestan. Kemudian menyusul Kong Hu Chu, seiring kedatangan masyarakat Cina ke Indonesia. Sebelumnya masyarakat Indonesia menganut paham animisme. Paham ini melekat kuat meskipun berbagai ajaran agama sudah menyebar.
Pelbagai macam agama ini secara otomatis mengotakatik sistem sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Pluralisme agama melahirkan pelbagai ragam budaya baru. Indonesia mengalami multidimensi perubahan struktur budaya. Agama berpengaruh erat melalui ajaran dan dominasinya. Dominasi dihasilkan dari proses penyebaran agama. Kepentingan ini menyebabkan berbagai benturan antar umat beragama.
Konsep penyebaran agama adalah keselamatan. Tiap umat beragama ingin menggaet masyarakat masuk agamanya sehingga mendapat keselamatan dari Sang Khalik. Umat Islam dan Kristiani mementingkan konsep ini. Niat mulia umat beragama untuk mendatangkan keselamatan ini mudah ternodai. Tercela karena hal tersebut dibumbui dengan persaingan, dan aksi saling hina antarumat beragama.
Kebenaran absolut hadir dalam ideologi masing-masing umat beragama. Penolakan keras terhadap ideologi agama lain merupakan titik nyala dari kebencian. Kemudian terwujud dalam agama yang beraliran radikal, keras, dan memaksa. Api kebencian ini berkobar hingga menimbulkan peperangan, dan perpecahan antar umat beragama. Cita agama terfokus pada dominasi masyarakat bukan lagi pada nilai agamanya.
Tragis, karena amat bertolak belakang dengan konsep awal penyebaran agama yang mementingkan keselamatan. Parahnya, paham kebencian ini kemudian menyebar melalui berbagai hasutan. Bersarang dalam ideologi, kemudian tumpah dalam berbagai aksi tidak manusiawi.
Cinta Kemanusiaan
Pluralisme agama hendaklah dinilai sebagai suatu kesatuan utuh. Kesatuan yang membentengi kemuliaan agama dari berbagai hasutan. Forum komunikasi antaragama menjadi kekuatan agar pandangan kebencian mengabur. Pemahaman keagamaan sebaiknya berdasar kepada kemuliaan ajaran antaragama. Tokoh-tokoh Agama perlu melakukan pemupukan akan kesadaran toleransi. Tujuannya tidak hanya mencapai ma’rifaat dalam nilai kosmos keagamaan saja, tetapi juga nilai kemanusiaan, memanusiakan manusia.
Seperti yang telah Tokoh Lintas Agama contohkan beberapa bulan lalu, membeberkan sejumlah kebohongan pemerintah. Sebuah teladan untuk para umat beragama dalam mengangkat perlawanan terhadap anti kemanusiaan. Tokoh Lintas Agama memposisikan diri sebagai penagih janji atas bualan pemerintah akan kesejahteraan. Sementara faktanya, rakyat tertindas karena koruptor telah mengerat nyawanya melalui kemiskinan. Rakyat sengsara oleh ulah para Jaksa mempermainkan nilai keadilan. Rakyat terperas penegak hukum yang berpihak kepada uang.
Elemen pemerintah tidak manusiawi tersebut seharusnya menjadi musuh umat beragama. Bukanlah para masyarakat sipil yang tidak bersalah menjadi korban kematian. Kasus bom bunuh diri adalah ledakan momentum peringatan. Sudah sepantasnya umat beragama saling menyatukan tujuan demi kemanusiaan. Bukan saling beradu pandang, dan menyalahkan. Bukan saling menghina, dan beradu pedang.(dimuat di SOLO POS 10 okt)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar