Mengenai Saya

Foto saya
pribadi yang melangkah sesuai panggilan harapan..untuk berubah..disini kuas ditorehkan..dioles carut marut hidup..senang dan susah..pemikiran, harapan dan sampah kekecewaan..

Selasa, 01 November 2011

Indonesia membunuh semar!


Indonesia membunuh semar!
Masalah moral masalah akhlak-Biar kami cari sendiri-Urus saja moralmu urus saja akhlakmu-Peraturan yang sehat yang kami mau!
Tegakkan hukum setegak tegaknya-Adil dan tegas tak pandang bulu-Pasti kuangkat engkau-Menjadi manusia setengah dewa.
Iwan Fals, Manusia Setengah Dewa.
Mendengar dan menyaksikkan kenyataan bahwa moral bangsa di ambang kehancuran sungguh menyedihkan. Bahkan penggalan lirik di atas sepertinya tidak cukup menggambarkan betapa bobroknya moral bangsa ini. Mulai dari sikap pemerintah dan aparat penegak hukum yang kurang tegas, menyalahgunakan wewenang, dan korupsi, hingga para guru yang seharusnya digugu dan ditiru ikut menghiasi kebobrokan moral dengan ketidakjujuran. Masyarakat sendiri ikut tertular dari bobroknya moral pemerintah. Ketidakjujuran mewabah. Diamini oleh semua kalangan dan tanpa disadari dimaklumi. Kemudian siapa lagi yang akan mencari akar masalah moral, masalah akhlak? Siapakah ‘kami’ yang disebut Iwan Fals? Akademisikah? Alim ulamakah? Rakyat kecilkah? Siapakah ‘kami’ yang peduli?
Akar kebobrokan
Munculnya ketidakjujuran, moral yang bobrok, dan lemahnya negara merupakan faktor penyebab dari kehancuran kerajaan dan negara pada zaman lampau. Dan tidak menutup kemungkinan untuk Indonesia menambah jumlah negara yang gagal karena lemahnya mental masyarakat dan negaranya. Anak-anak pun dilibatkan dalam tragedi kehancuran mental, dididik dan diarahkan kepada pintu ketidakjujuran. Pikiran yang jernih akan mengatakan kebobrokan ini harus dihentikan. Hukum dibutuhkan untuk menangani semua ini. Namun hakikat hukum sebagai fungsi kontrol terhadap perilaku masyarakat tidak dapat ditegakkan karena ikut bobrok juga dari dalamnya. Hal ini yang menyebabkan kebobrokan itu menular. Tidak ada faktor yang mengingatkan, mengawasi, dan memberi efek jera kepada masyarakat. Ataukah nilai hukum di mata masyarakat sudah bergeser? Norma ketidakjujuran yang semula dipandang buruk menjadi baik di mata semua orang? Benar kiranya, jika pemimpin negara dianggap sebagai manusia setengah dewa kala berhasil menegakkan hukum seperti yang diharapkan.
Semar, manusia setengah dewa
Tak ubahnya raja presiden dari masa ke masa. Terpusat kekuasaan pada satu titik, pada satu manusia. Yang membedakannya hanyalah ada tidaknya punakawan yang mendampinginya. Dalam sejarah budaya pewayangan di Jawa, raja selalu didampingi oleh para punakawan yang senantiasa mengingatkan dan memberi nasihat kepada raja dalam bertindak dan memutuskan suatu kebijakan. Sesuai dengan namanya, Punakawan, yang secara bahasa diartikan menjadi teman yang mengetahui. Mengetahui yang baik dan yang buruk. Punakawan digawangi oleh Semar beserta ketiga anaknya, gareng, petruk dan bagong. Semar merupakan pengejawantahan dari seorang dewa yang diturunkan ke bumi untuk memberi nasihat kepada putro wayah nya yaitu, manusia. Mulai dari para Pandawa, hingga raja astina setelah era bharatayudha, raja Parikesit. Pun sampai saat kini semar masih memberi nasihat melalui simbolisasi dan ajaran-ajarannnya yang tersisa. Perwujudan semar sebagai seseorang romo yang bulat gemuk, berkuncung, dan bersarung kain parangkusumorojo memiliki harfiah tertentu. Walaupun Semar adalah lelaki, tapi tubuhnya yang gemuk dan berpayudara menandakan bahwa semar adalah tidak membedakan antara pria dan wanita. Kuncung rambutnya menyiratkan bahwa dirinya adalah akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Pelayan untuk manusia, berupa petuah dan nasihat-nasihat. Sedangkan kain semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan Dewonggowantah ,untuk menuntun manusia, agar memayuhayuning bawono, mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi. Selain itu masih ada lagi ciri-ciri lain yaitu: Semar berkuncung seperti kanak kanak, namun juga berwajah sangat tua. Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan. Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa. Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok. Semar tak pernah menyuruh, namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa sosok seorang Semar adalah seorang yang adil dan rendah hati. Begitulah sosok Semar dalam punakawan, Fungsinya sebagai pemberi nasihat tidak ubahnya pula sebagai nilai hukum yang memiliki fungsi mengingatkan, menunjukkan norma-norma yang baik dan buruk.  
Semar, moksa!
Semar secara fisik sudah tidak menemani Indonesia dalam kehidupan. Nyatanya, semar hanya dongeng belaka. Walaupun menurut cerita, Semar yang telah moksa masih meninggalkan rohnya di bumi nusantara ini. Ada benarnya pula, jika semar masih hidup sampai saat ini. Begitu banyak elemen masyarakat yang berusaha mengingatkan pemerintah untuk kembali ke jalannya yang  benar. Para Mahasiswa, Para alim ulama, Para buruh, Para ahli. Bahkan contoh yang nyata adalah Siami, yang lantang menyuarakan kejujuran harus menikmati rasanya jadi warga baik yang terbuang. Lalu dimanakah tempatnya, presiden meletakkan nasihat-nasihat mereka? Dalam hati, atau hanya mampir di ujung daun telinga? Indonesia, secara tidak langsung mengatakan tidak lagi membutuhkan semar. Tidak butuh lagi nasihat. Tidak pemerintah, tidak masyarakatnya mengabaikan itu semua. Tidak lagi ada Punakawan, adanya Punalawan. Bukannya teman yang menasihati, tetapi lawan, baca: masyarakat bobrok, saling membujuk dan mengajak untuk menjadi teman. Memperbanyak dan menyebarluaskan kebobrokan. Keadilan sudah tiada. Para koruptor bebas melanglang buana, bebas kabur, mangkir dari pengadilan. Pun begitu yang telah diberi hukuman, dalam penjara, masih saja bisa melancong ke nusa dua. Beginilah gambaran pemerintah dan masyarakat yang digandrungi kuasa, harta. Rakus dan merasa penuh adigdaya.  Elemen-elemen masyarakat yang menjadi semar untuk Indonesia hanyalah sampah yang diabaikan. Jika diingat kembali, mungkin mereka manusia setengah dewa yang Indonesia cari. (dimuat di SOLO POS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar