Mengenai Saya

Foto saya
pribadi yang melangkah sesuai panggilan harapan..untuk berubah..disini kuas ditorehkan..dioles carut marut hidup..senang dan susah..pemikiran, harapan dan sampah kekecewaan..

Minggu, 27 Maret 2011

renungan:TUHAN MAHA ADILKAN?


Setelah membaca ekonomi kerbau bingung yang berisi tentang derita rakyat jelata. Saya mulai mempertanyakan keadilan Tuhan. Menurut kemampuan berpikir saya Tuhan memberikan derita pada manusia karena dua hal; cobaan dan akibat dari sebuah perbuatan. Hal yang sudah lama tidak pernah terbantahkan kebenarannya hingga saya selesai membaca kisah tentang ngatiyem dalam buku tersebut. Bukan berarti saya sok pintar ataupun tahu akan segalanya, tetapi ini hanya buah pikiran saya, kebetulan saja teori itu belum terbantahkan. Namun dari kisah ngatiyem yang saya baca, saya rasa, saya perlu mengaji ulang pemikiran tersebut.
Ngatiyem, adalah seseorang janda, meninggalkan suaminya dan anaknya dari Jakarta jauh ke yogya. Tidak kuat akan omelan suaminya yang terus nyerocos, wanita usia 17 tahun ini memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Emosi menjadi sebabnya. Tidak bisa membawa putri tercintanya, ia kembali ke kampung halaman bersama tubuh dan hatinya yang gundah. Sayang, tidak ada lagi keluarga yang bisa disinggahinya. Melainkan semua telah kembali kepada yang kuasa. Untung saja, tanah TUHAN tak bertepi. Ngatiyem memilih jalanan sebagai tempat tinggalnya.
Yogyakarta, menjadi tempat singgahnya yang baru. Di sana ia menjalani lembaran baru dengan penuh rindu pada putrinya di Jakarta. Sesal dalam hatinya meninggalkan suami karena emosinya yang labil saat itu. Sampai suatu ketika dengan kuasa TUHAN. Ngatiyem menikah dengan Sudiono, seorang tukang becak. Ngatiyem menjalani hidup barunya dan TUHAN mengkaruniainya sebuah anak, Dono namanya.
Tak selang lama dari kisah bahagianya, cobaan kembali datang. Sudiono jarang membawa penghasilan dari pekerjaannya. Sepi pelanggan menjadi alasannya. Sudiono yang juga suka berjudi membuat buruk mata Ngatiyem memandangnya. Ngatiyem marah. Dan mulailah percekcokan. Tidak terima dimarahi. Sudiono balik mengancam akan membunuh Ngatiyem.
Ngatiyem yang ketakutan membawa lari anaknya, dono. Pergi meninggalkan Sudiono yang kalap. Namun, saya tidak bisa menyebutnya cobaan atau kesialan (silahkan pembaca menafsirkan atau memilihnya dengan apa yang anda inginkan), Sudiono mengejar mereka dan merebut Dono kembali. Jauh di dalam lubuk hati Ngatiyem, sebagai seorang ibu, pasti perih tak terkira. Untuk kedua kalinya dijauhkan dari buah hati. Dan jalanan, kembali menjadi tempat berteduhnya. Berteduh dari hujan kesedihan yang entah kapan redanya.
Dari situ saya bertanya tentang sebuah hal yang mustahal, mungkin saya juga terlalu kelewatan, saya mempertanyakan logika TUHAN memberikan sebuah derita? Saya sendiri takut untuk meneruskan pemikiran saya, saya takut berujung pada hilangnya kepercayaan saya akan TUHAN. Akan tetapi sebelum saya melanjutkan, saya berpikir bahwa ini adalah sebuah jalan pencarian saya terhadap TUHAN, dan saya melanjutkan kebingungan saya.
Wanita itu, Ngatiyem. Entah hidupnya memeluk agama atau tidak, percaya akan kuasa atau tidak, berbuat dosa atau tidak. Lepas dari itu semua. Dia adalah manusia yang tidak tahu menahu banyak tentang agama. Bersyukurlah anda sekalian telah memeluk agama dan memiliki kepercayaan semenjak anda dilahirkan! Dan dengan bimbinganNYA, terserah dengan kepercayaan apa yang anda anut, anda dituntun untuk berbuat kebaikan. Seperti pernyataan saya di atas, derita itu di berikan sebagai cobaan atau akibat dari sebuah perbuatan. Saya menanyakan nasib Ngatiyem, berkali-kali ditimpa pahitnya kehidupan yang berbanding miring dalam timbangan indahnya hidup.
Saya sendiri tidak menahu bagaimana Ngatiyem menjalani kehidupan. Yang saya ambil kesimpulan, Ngatiyem adalah, sebut saja (anda berhak memilih kata yang lebih baik), korban. Saya sempat berpikir begitu, Ngatiyem adalah manusia yang terpilih oleh TUHAN untuk menjadi ibroh(pelajaran) buat yang lainnya. Menjadi contoh bagaimana manusia harus menjalani apa yang disebut dengan kesabaran. Pun begitu dengan manusia harus bersyukur dengan apa yang telah diberikan TUHAN. Yang kemudian, Ngatiyem diberi kenikmatan pada dunia lain kelak. Yah, TUHAN yang lebih tahu. Saya hanya merasakan kasihan, mungkin hati kecil saya berkata ini tidak adil, tapi nyatanya hati kecil yang lain mengiyakan bahwasanya TUHAN berkuasa dan lebih tahu apa yang dilakukan pada hamba-hambanya. Hanya saja jika itu sebuah cobaan, saya tidak dapat menangkap hikmah yang telah didapat dari Ngatiyem. Apakah karena Ngatiyem tidak pandai bersyukur dan beribadah, sehingga cobaan datang lagi untuk menimpanya?
Namun belum selesai saya menemukan jawaban dengan penuh keraguan, akhirnya saya tepis analisa saya tentang manusia menjadi sebuah korban dari ketidakadilan TUHAN.  Hati saya kembali bertanya-tanya. Dari yang saya ketahui, bahwa TUHAN tidak memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan manusianya. Nah, yang menjadi pertanyaan, bisakah kalian bayangkan bagaimana rasa sakitnya seorang wanita yang telah bersusah payah mengandung dan melahirkan. Membesarkan dan mengasuh dengan penuh sayang. Harus dipisahkan dengan buah hati tercintanya, bahkan untuk yang kedua kalinya!
Saya yakin Ngatiyem tidak begitu biadabnya, untuk kuat berpisah dengan kedua anaknya, putri dan putranya, dengan menganggap itu sebagai sambil lalu. Jika itu menyisakan keperihan yang mendalam, kenapa TUHAN memberikan cobaan kepadanya? Apakah kemampuan yang dimaksudkan TUHAN adalah kemampuan berpikir yang diberikanNYA kepada manusia? Sehingga dengan kemampuan Ngatiyem yang notabane nya sebagai rakyat jelata, hanya mampu berpikir bahwa derita itu tidak seberapa dibandingkan rong-rongan rongga perut yang melompong kosong minta untuk di isi? Saya juga yakin tidak begitu.
Saya menyerah, mencoba membuka tabir rahasia TUHAN memberi derita pada hambanya. Dari proses pemikiran itu, bertetes-tetes ceceran pikiran lain yang mengarahkan saya untuk mengalihkan otak ini ke arah lain. Pikiran saya mentok pada, hidup saya terlalu banyak diberkahi! Bahkan ketika saya sedang diberi derita akibat perbuatan saya sendiri (dosa). Saya masih dikaruniai berkah-berkahNYA. Berkah-berkah yang kecil seperti pecahan kaca dan membuat saya menangis. Saya tidak tahu bagaimana harus mensyukurinya. Tidak tahu bagaimana berterimakasih atas kemuliaan dan berkah yang telah diberikanNYA. Kecuali hanya ucapan terimakasih semata dan ibadah yang sebisanya. Hanya itu yang bisa saya simpulkan dari pertanyaan saya, yang tak kunjung terjawab. Dan jika pemikiran tentang ketidakadilan datang kembali, segera ku menepisnya dengan rasa syukur. Sepertinya TUHAN membisikkan padaku bahwa, tak pantas untukku mengulasnya.
Tulisan itu hidup dan berkembang. Layaknya tulisan ini, pencerahan datang untuk memberikan nyawa kelanjutan sebuah tulisan. TUHAN Maha Kuasa, dengan segala keinginanNYA. Seperti halnya cerita Ngatiyem yang membekaskan tanda tanya pada diri saya. Dan rahasia kisah Ngatiyem adalah salah satu dari kuasaNYA. DiberkatiNYA Ngatiyem untuk terus berjalan dalam kesusahan adalah kehendakNYA, begitu pula dengan saya yang selalu diberi rejeki yang tidak terhitung jumlahnya, pun dengan seluruh manusia yang hidup di dunia ini. Dan saya pasrah dengan segala kehendakNYA. Bukan berarti saya tidak mau berusaha ataupun berdoa, namun ketika rasa pasrah itu telah tiada. Bagaimana saya bisa menerima semuaNYA? Bahkan dalam tiap ucap doa dan usaha, kekhawatiran itu tetap ada. Bagi saya itu wujud rendah diri dihadapanNYA.

Inspirasi: Shindunata, Ekonomi Kerbau bingung, penerbit KOMPAS




Tidak ada komentar:

Posting Komentar